Denyutjambi.com, JAMBI – Lorong-lorong RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi kini seolah mengembuskan napas lega. Ada frekuensi yang berbeda dalam langkah kaki para tenaga medisnya—sebuah perpaduan antara rasa syukur, harapan yang membuncah, sekaligus kesadaran untuk berbenah. Di bawah komando Pelaksana Tugas (Plt) Direktur, drg. Iwan Hendrawan, MARS, rumah sakit rujukan utama ini tengah bersiap melakukan akselerasi besar-besaran untuk mengurai “benang kusut” yang selama ini membelit.
Efisiensi Tanpa Kompromi Kualitas
Wadir Pelayanan, dr. Anton, menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memangkas birokrasi pelayanan yang lamban. Tak boleh ada lagi tumpukan pasien yang menunggu terlalu lama.
”Pasien yang kondisinya sudah stabil harus bisa langsung masuk ke ruangan. Kami sedang melakukan sosialisasi ketat terhadap Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) mengenai SOP ini,” ujar dr. Anton. Dalam waktu dekat, manajemen juga akan merombak alur pemeriksaan laboratorium dari poliklinik agar lebih cepat dan efisien.
Strategi menarik juga muncul dari program drg. Iwan mengenai layanan spesialis. RSUD akan membuka pintu bagi pasien umum yang ingin langsung ditangani dokter spesialis dengan tarif yang kompetitif—mengacu pada standar rumah sakit swasta ternama seperti Siloam—guna mendongkrak pendapatan rumah sakit (PAD).
Suara dari Akar Rumput: “Raja” dan Kesejahteraan Prajurit
Optimisme ini bukan sekadar narasi meja rapat. Di lapangan, para kepala ruangan dan staf merasakan angin perubahan. Bagi mereka, kepemimpinan drg. Iwan adalah tentang keseimbangan antara kewajiban dan hak.
”Siapa pun ‘Raja’-nya, yang penting prajuritnya aman dan damai. Sarana terpenuhi, hak diberikan, maka pelayanan pasti akan tercapai,” ungkap salah satu Kepala Ruangan.
Ia mengakui tantangan berat yang dihadapi, mulai dari beban kerja tinggi hingga keterbatasan obat-obatan akibat hutang yang membengkak. Namun, langkah efisiensi yang digelorakan manajemen saat ini dianggap masuk akal. Salah satu inovasinya adalah sistem retur obat ke farmasi untuk pasien yang sudah pulang atau meninggal dunia, sehingga stok obat yang masih layak bisa dialokasikan kembali tanpa harus menambah beban biaya.
”Tangan Dingin” yang Dirindukan
Kembalinya drg. Iwan Hendrawan dianggap sebagai momen “pulang kampung”. Pernah menjabat sebagai Plt selama tiga tahun sebelum bertransformasi di RSJ Kol. HM Syukur, ia bukan orang asing bagi sistem di Mattaher.
”Beliau tahu mana yang harus ditambal, mana yang harus diganti,” seloroh seorang perawat sembari menirukan logat khas drg. Iwan yang selalu menekankan kesejahteraan pegawai. “Ujung-ujungnya duit (UUD) juga,” candanya, merujuk pada komitmen sang Direktur terhadap kelancaran insentif jasa medis.
Rasa syukur serupa datang dari Poli Eksekutif Rawat Jalan Graha Utama Mascjchun Sofwan. Para bidan dan staf pelaksana yang merasa “terabaikan” selama ini, kini melihat titik terang. Mereka yakin, di bawah kendali sosok yang berpengalaman dan “tahu lapangan”, urusan jasa medis akan lebih lancar, yang secara otomatis akan memacu keramahan pelayanan kepada masyarakat.
Menuju Citra Positif
Kekompakan internal antara drg. Iwan, dr. Anton, hingga Wadirum yang baru dilantik, Mustarhadi, menjadi modal kuat. RSUD Raden Mattaher kini tidak hanya sekadar gedung “plat merah”, melainkan sebuah institusi yang sedang memanusiakan sistemnya.
Misi kemanusiaan kini berjalan beriringan dengan perbaikan manajemen. Dengan evaluasi SPO yang ketat dan pemenuhan hak pegawai, RSUD Raden Mattaher optimis mampu menghapus citra negatif dan kembali menjadi kebanggaan masyarakat Provinsi Jambi.(****/dj/ist)













